Elang Fajar @ IPB

mencari dan memberi yang terbaik

Pemanasan

Oke, tulisan ini sengaja gue kasih judul pemanasan soalnya gue udah lama banget ga nulis di blog ini. Kasian banget blog gue terlantar hampir 2 bulan. Mungkin sudah banyak sarang laba-laba disini. Tadi juga gue sempet liat kecoa ama tikus berkeliaran. Bukan di blog tentunya, tapi di dapur rumah gue hhe..

Gue jadi inget bulan Desember lalu sempet dapet tugas tantangan dari salah satu pendiri sekaligus pemerhati -ceilah- grup Icons Blogger, Ahmad Alkadri, buat bikin tulisan singkat 300 kata tentang 2 tema yang boleh dipilih salah satu. Deadlinenya kalo ga salah 12 Desember 2011 dan gue baru ngerjain sekarang xD

Ohiya buat yang belum tau apa itu grup Icons Blogger silahkan banyak-banyak nulis siapa tau lo dapet kesempatan buat gabung di grup ini -padahal mah gue juga jarang banget ya hhe-

back to the topic

Gue milih tema tentang Bus Luar Kota soalnya gue ga tau harus nulis apa kalo tentang makanan danus. Yang jelas gue lebih suka kue pastelnya sohib gue waktu SMA, Banggas Hanistia Pahlevi, yang juga Kepala Departemen Dana Usaha waktu gue masih menjabat sebagai Pelayan DKM Ar-Rahmah SMAN 1 Bogor. Kenapa? soalnya murah, cuma 1000 rupiah, dan bonus sambel kacang yang nyocolnya bareng temen-temen sekelas hahaha :D lebih terasa gimanaaa gitu.. alasan lainnya ya karena itu pemasukan organisasi gue saat itu wkwkw..

Nah, gue sendiri ga inget kapan gue pertama kali naik bus keluar kota. Dari kecil, bus udah jadi transportasi yang akrab buat gue tiap tahun. Salah satu tradisi yang cuma ada di Indonesia dan kayaknya perlu diberi hak paten hehe.. Mudik. Orangtua gue asalnya dari Sragen, Jawa Tengah, dan keluarga gue sampai hari ini masih tinggal di Bogor. Dulu bokap gue belum punya kendaraan pribadi, motor aja dikirim dari Sragen sama kakek gue.

So, Bus udah jadi transportasi wajib buat keluarga gue tiap tahun demi memenuhi kerinduan akan kampung halaman orangtua gue. Dan gue curiga sepertinya bus juga yang menyatukan cinta bokap dan nyokap gue hhe.. pulang bareng euy, dua-duanya kan mahasiswa IPB :)

Biasanya kalau mudik, kami memilih bus Mulyo Indah. Ada yang tau busnya? Busnya warna putih-biru dan ber-AC. Ohya, biasanya ada tv ama toiletnya juga. Ada satu hal yang gue rindukan dari bus, aroma khas di dalam bus, kayaknya sih dari AC-nya. hmm udah lama gue ga ngerasain..

1 lagi yang gue suka kalau naik bus. Kaca bus itu lebar dan pemandangan dari situ indah :) . Perjalanan Bogor-Sragen bisa memakan waktu sekitar 14 jam. Berangkat sekitar pukul 2 siang dan sampai sekitar subuh. Jadi gue bisa menikmati pemandangan sunset selama di perjalanan, mengagumi wisata malam dan kalau perjalanan lebih lama, gue juga bisa melihat sunrise keesokan paginya. Yaa walaupun terkadang gue sering ketiduran..

Dulu, ada sebuah jalur yang selalu gue tanya ke nyokap tiap kali pulang kampung. Biasanya gue lewat jalur itu ketika tengah malam. Gue sering minta bokap atau nyokap buat bangunin gue kalau lewat jalur itu.

Jalur meliuk-liuk dikelilingi tebing-tebing tanah dengan ratusan pohon yang tinggi dan lebat. Sepi. Sunyi. Gelap. Misterius. Tapi indah..

Jalur yang selalu bikin gue merasa takut, lemah, kerdil, tapi di sisi lain bikin gue penasaran dan kagum..

Jalur yang namanya mirip nama gue

.

.

Ya, Alas Roban…

.

Bogor, akhir Januari 2012

31 January 2012 at 23:38 - Comments

Pemuda Hari Ini…?

Waktu duduk di kelas X atau kelas 1 SMA saya pernah mengalami kejadian menarik. Ceritanya saya baru pulang dari sekolah. Seperti biasa, berhubung saya termasuk anak nongkrong sekret alias anak-anak yang sering menghabiskan waktu-waktu sepulang sekolah buat mondar-mandir di sekret ekskul, saya pulang agak sore.

Biasanya sih saya baru pulang setelah menunaikan sholat maghrib di mesjid sekolah saya tercinta, Mesjid Ar-Rahmah. Tapi entah kenapa hari itu saya ingin pulang lebih cepat. Akhirnya dengan berat hati –halah- saya meninggalkan sekolah menuju rumah alias pulang.

Seinget saya waktu itu saya belum pake motor buat pulang-pergi dari rumah ke sekolah atau sebaliknya. Jadi yaa naik angkotlah.. Sampai di rumah sekitar pukul 05.00 sore. Nah, sekitar 15 menit kemudian, Ayah saya juga sampai di rumah, abis pulang kerja.

Terus Ayah bilang, “Untung kamu udah di rumah, di depan tadi ada yang tawuran. Barusan aja.” –kurang lebih kayak gitu walaupun sebenernya saya juga lupa hehe-

Hemm, apa yang bisa kita ambil dari cerita di atas? Sebenernya bukan masalah saya pulang agak cepet jadi ga ikut-ikutan kena tawuran. Tapi masalahnya lebih ke adanya tawuran itu sendiri.

Tidak dapat dipungkiri, kalau saat ini remaja Indonesia mengalami degradasi moral yang cukup parah. Tawuran, seks bebas, pornografi dan pornoaksi, rokok, narkoba, dan berbagai macam perilaku menyimpang lainnya. Hal ini seharusnya menjadi “PR” kita bersama.

“Pemuda Hari Ini adalah Pemimpin Masa Depan”

Apa jadinya bangsa ini jika mental pemudanya seperti saat ini?

Apa jadinya bangsa ini jika para pemudanya memiliki moralitas yang rendah?

Apa jadinya bangsa ini jika para pemuda yang diharapkan bangsa masih terbelenggu dalam perilaku yang tidak mencerminkan kepribadian bangsa?

16 September 2010 at 08:11 - Comments

Namanya Muhadi…

Namanya Muhadi, bertubuh kekar dan sehat. Usia 76 tahun. Ia tinggal di atas Kali Code, Yogya, jauh sebelum wilayah ini ramai dihuni. Gubuknya tak lebih dari 3 x 2 meter, tiada kasur, kecuali bantal plus sarung yang berfungsi sebagai selimut.

Ruang itu diterangi lampu 15 watt yang listriknya dari tetangga. Tiap malam hingga dini hari, Muhadi ditemani radio yang selalu disetel siaran wayang kesukaannya. Pakaiannya cuma tiga helai. Pintu rumahnya tidak pernah dikunci.

Muhadi memang tidak punya apa-apa, perasaannya juga tidak diombang-ambingkan oleh apa-apa. Simak saja pengakuannya pada majalah Basis: ”Senang ya tidak, karena tak ada yang bisa saya senangi. Susah ya tidak, karena tidak ada yang bisa saya susahi.”

Hidup dijalani apa adanya. Juga dalam hal makan. ”Nasi sambal saja cukup. Karena lauk orang makan itu sebenarnya hanyalah rasa lapar,” katanya. Sebagai orang yang hidup sebatang kara, ia tidak takut mati atau khawatir mayatnya dibiarkan orang. Pasti ada yang menguburkan. Enteng, kan?

Sebuah sikap yang membuat dia merasa tenang dan tenteram. Namun, lebih dari 40 tahun yang lampau, perjalanan hidup pria asli Boyolali ini penuh kegelapan. Muhadi dibesarkan dalam keluarga bercukupan. Oleh orangtuanya, ia diberi bekal hidup; sebuah rumah dan keahlian jahit-menjahit.

Namun, Muhadi terobsesi meraup duit banyak tanpa harus bersusah payah. Caranya? Main judi. Buntutnya, mesin jahit dan rumahnya amblas di meja judi. Ia menyadari selalu kalah bertaruh, tapi tidak pernah kapok. Di mata dia, ketegangan demi ketegangan yang didapat lewat judi sangat mengasyikkan.

Dia bersikeras menguasai dan terikat pada alam materi. Tapi, begitu orangtuanya meninggal, Muhadi seperti tercampakkan dari keluarga. Ia bak sampah. Lagi-lagi pelariannya adalah judi. Adapun modal uang untuk judi diperoleh dari mencuri. Ternyata, makin sering mencuri, ia makin percaya diri.

Modal utama maling adalah tabah dan berani. Ketakutan harus bisa dikuasai. Falsafah itu dibuktikan. Saat menyatroni rumah orang kaya, misalnya, Muhadi dengan tenang melangkahi orang tidur. Patung emas di atas kepala orang itu direnggutnya, tanpa terburu-buru. Sebab, jika tergesa-gesa, akan dimakan oleh ketakutannya sendiri.

Esoknya, hasil curian itu amblas di meja judi. Begitu berulang kali, hingga akhirnya ia ditangkap dan dijebloskan ke bui. Kapok? Tidak. Penjara justru merupakan ”sekolah” ilmu permalingan. Ia bisa belajar ilmu menghitung hari, jam, dan waktu yang tepat buat mencuri dari sesama pencuri.

Selain maling, juga mencopet. Saat kereta api mau berangkat, misalnya, ia amati sasaran. Begitu peluit tanda berangkat kereta ditiup, Muhadi segera beraksi. Dalam sekejap, ia mampu menggondol jam, kalung, atau gelang. Teriakan korban tidak berarti apa-apa, karena Muhadi sudah melompat keluar kereta.

Hasil jambretan itu dijual pada tukang tadah. Begitu duit di tangan, Muhadi berjudi lagi. Minum dia tak suka, main perempuan takut ketularan sipilis. Baru sekitar 20 tahun lalu, ia menyudahi petualangannya. Muhadi bekerja sebagai pembantu tukang tambal ban, penjaga perpustakaan keliling, dan terakhir jadi tukang tulis papan nama.

(more..)

16 September 2010 at 08:09 - Comments
Кому нужно было узнать где бы найти футболки iceberg купить в интернет магазине футболок, зацение сюда [url=http://designtees.ru/zoophilia ]футболки с …
19 December 11 at 11:16
[url=http://cybercrime-956631.ru/2010/elektronnaya-sigareta-kupit-v-rostove-na-donu.html]электронная сигарета купить в ростове на дону[/url] [url=http://cybercrime-956631.ru/uniseks-sigarety/elektronnye-sigarety-otradnoe.html]электронные сигареты отрадное[/url] [url=http://cybercrime-956631.ru/gallereya/sigareta-sokrashaet-zhizn-na.html]сигарета сокращает жизнь на[/url] [url=http://cybercrime-956631.ru/elektronnye-sigarety/boge-e-cigarette.html]boge e cigarette[/url] [url=http://cybercrime-956631.ru/kategorii/elektronnye-sigarety-rich.html]электронные сигареты рич[/url] …
19 December 11 at 20:42

Assalamu’alaikum!

Perkenalkan,

Qiyamuddin Robbani
Jurusan Ekonomi Syariah
Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM)

😀

30 July 2010 at 01:45 - Comments
waalaikumussalam...
17 September 10 at 05:18